Jumat, 14 Agustus 2015

Sekularisasi sejarah


Bandung, 08/8_Sabtu, Kuliah peradaban pertemuan ke sembilan kali ini membahas lanjutan seputar pergerakan Islam di Indonesia. Mengenai Usaha-usaha kaum sekuler menjauhkan sejarah dari konsep Islam. Sebelumnya telah dibahas bagaimana Islam masuk ke Negara Indonesia. Pada kali ini difokuskan  bagaimana perbandingan teori kaum sekuler dengan kitab suci Al-Qur’an. “Bagi seorang muslim menulis sejarah itu merupakan cara pandang sebuah ideologi yang dibawa saat menuliskannya.”tutur Ust. Tiar Anwar Bachtiar. Peserta diawal pun sudah menyimak serius  hal ini terlihat dari setiap materi yang disampaikan maka mereka  catat. Acara yang berlangsung di aula masjid Nurul Falaah ini berjalan lancar.


Sejarah masuk dan menyebarnya Islam di Indonesia terkhusus di pulau Jawa tidak terlepas dari sejarah peran wali sanga. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Gagasan sunan Kalijaga ini berhasil dan diterima oleh masyarakat melalui pewayangan yang tadinya hindu menjadi Islam. Sebagai contoh senjata Krisna yang paling sakti yaitu jimat layang Kalimusada yang berarti senjata paling ampuh dirubah katanya menjadi kalimat syahadat. Meski terdapat beberapa kontroversi mengenai wali sanga ketika kita melihatnya dari sudut pandang yang benar, wali sanga bukan cerita aneh.  
Kaum sekuler dengan keyakinannya pada teori sejarah yang berasal dari barat sangatlah jelas mereka tidak menghubungkannya dengan agama Islam. Padahal Negara Indonesia mayoritas penduduknya muslim, dan besar peranannya terhadap sejarah kemerdekaan Indonesia, yang bermula dari gagasan organisasi pergerakan Islam di Indonesia.
Maka saat itu pula pendidikan di Indonesia selalu dihadapkan pada pelajaran sejarah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Maka disarankan sebelum mengkaji sejarah perkuat keilmuan kita dengan ilmu tauhid. Mempelajari agama dengan baik. Supaya tidak mudah terjebak. 
“Sebelum kita membaca sejarah maka kita harus membaca Al-Qur’an terlebih dahulu”, ujar Fahrul ketika ditanya kesan pesan setelah mengikuti Kape kali ini.  
Adapun indikator kebenaran sejarah salah satunya tidak terlepas dari kepentingan masa kini kita. Karena tanpa adanya kepentingan didalamnya kita tidak bisa memutuskan sejarah itu benar atau tidak. Kekuatan sejarah penting untuk rekonstruksi cara berfikir barat supaya tidak menguasai umat Islam. “Sejarah itu menceritakan hal-hal yang penting untuk diketahui, hal-hal yang detail justru tidak penting,” pungkas Ustadz sekaligus dosen saat ini.
Antusias peserta dalam mengikuti kelas terlihat dari banyak nya pertanyaan yang dilontarkan kepada pemateri. Namun acara yang berlangsung selama dua jam itu harus diakhiri. Masih ada tiga kali pertemuan lagi  kedepannya.
“Perlu langkah-langkah strategis saat ini untuk berdakwah”, pungkas Halim peserta Kape yang baru bergabung saat itu.
Semoga kuliah peradaban ini menjadi salah satu jembatan langkah strategis untuk menangkal arus pemikiran-pemikiran yang merongrong umat Islam saat ini yaitu, Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Sebagai taglinenya menuntut ilmu butuh kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan. Kuliah peradaban! Lahirkan pejuang peradaban Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar