Bandung,
08/8_Sabtu, Kuliah peradaban pertemuan ke sembilan kali ini membahas lanjutan
seputar pergerakan Islam di Indonesia. Mengenai Usaha-usaha kaum sekuler
menjauhkan sejarah dari konsep Islam. Sebelumnya telah dibahas bagaimana Islam
masuk ke Negara Indonesia. Pada kali ini difokuskan bagaimana perbandingan teori kaum sekuler
dengan kitab suci Al-Qur’an. “Bagi seorang muslim menulis sejarah itu merupakan
cara pandang sebuah ideologi yang dibawa saat menuliskannya.”tutur Ust. Tiar
Anwar Bachtiar. Peserta diawal pun sudah menyimak serius hal ini terlihat dari setiap materi yang
disampaikan maka mereka catat. Acara
yang berlangsung di aula masjid Nurul Falaah ini berjalan lancar.
Sejarah masuk dan menyebarnya Islam
di Indonesia terkhusus di pulau Jawa tidak terlepas dari sejarah peran wali
sanga. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Gagasan sunan Kalijaga ini berhasil
dan diterima oleh masyarakat melalui pewayangan yang tadinya hindu menjadi
Islam. Sebagai contoh senjata Krisna yang paling sakti yaitu jimat layang
Kalimusada yang berarti senjata paling ampuh dirubah katanya menjadi kalimat
syahadat. Meski terdapat beberapa kontroversi mengenai wali sanga ketika kita
melihatnya dari sudut pandang yang benar, wali sanga bukan cerita aneh.
Kaum sekuler dengan keyakinannya pada
teori sejarah yang berasal dari barat sangatlah jelas mereka tidak
menghubungkannya dengan agama Islam. Padahal Negara Indonesia mayoritas
penduduknya muslim, dan besar peranannya terhadap sejarah kemerdekaan
Indonesia, yang bermula dari gagasan organisasi pergerakan Islam di Indonesia.
Maka saat itu pula pendidikan di
Indonesia selalu dihadapkan pada pelajaran sejarah yang tidak sesuai dengan
syariat Islam. Maka disarankan sebelum mengkaji sejarah perkuat keilmuan kita
dengan ilmu tauhid. Mempelajari agama dengan baik. Supaya tidak mudah
terjebak.
“Sebelum kita
membaca sejarah maka kita harus membaca Al-Qur’an terlebih dahulu”, ujar Fahrul
ketika ditanya kesan pesan setelah mengikuti Kape kali ini.
Adapun indikator
kebenaran sejarah salah satunya tidak terlepas dari kepentingan masa kini kita.
Karena tanpa adanya kepentingan didalamnya kita tidak bisa memutuskan sejarah
itu benar atau tidak. Kekuatan sejarah penting untuk rekonstruksi cara berfikir
barat supaya tidak menguasai umat Islam. “Sejarah itu menceritakan hal-hal yang
penting untuk diketahui, hal-hal yang detail justru tidak penting,” pungkas Ustadz
sekaligus dosen saat ini.
Antusias peserta
dalam mengikuti kelas terlihat dari banyak nya pertanyaan yang dilontarkan
kepada pemateri. Namun acara yang berlangsung selama dua jam itu harus
diakhiri. Masih ada tiga kali pertemuan lagi
kedepannya.
“Perlu
langkah-langkah strategis saat ini untuk berdakwah”, pungkas Halim peserta Kape
yang baru bergabung saat itu.
Semoga kuliah
peradaban ini menjadi salah satu jembatan langkah strategis untuk menangkal
arus pemikiran-pemikiran yang merongrong umat Islam saat ini yaitu,
Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Sebagai taglinenya menuntut ilmu butuh
kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan. Kuliah peradaban! Lahirkan pejuang
peradaban Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar