Jumat, 14 Agustus 2015

Sejarah Pergerakan Islam di Indonesia



KaPe Bahas Sejarah Pergerakan Islam Indonesia
IMG_0009.JPGKuliah Peradaban (KaPe) pertemuan kedua membahas seputar Sejarah Pergerakan Islam Indonesia. Perkuliahan yang digelar pada 31 Mei 2015 tersebut berlangsung di aula mesjid Nurul Falaah, kel. Turangga,Buah batu, Bandung. Mengambil tema “Sejarah”, karena belajar dari sejarah kita bisa mengevaluasi supaya kejadian negatif tidak terulang lagi. Narasumber yang dihadirkan adalah Tiar Anwar Bachtiar,M.Hum. Salah seorang peneliti di INSISTS dan salah seorang  staf pengajar di Pesantren Persatuan Islam (Persis) 19, Bentar Garut.
Memulai perkuliahannya, Ustadz Tiar menyajikan sebuah presentasi yang diberi judul “Hinduisasi Dalam Sejarah Indonesia” beliau menerangkan tentang Mengapa harus candi Borobudur yang menjadi icon Indonesia? padahal dibandingkan Borobudur mesjid yang usianya lebih tua dari candi ada dan mesjid pun jauh lebih berperan bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia dari pada candi Borobudur. Ironinya lagi Borobudur lebih banyak dimakmurkan oleh orang Islam daripada orang Hindu sendiri,” ujar Tiar.  Selama ini kerukunan umat Islam yang mayoritas di Indonesia  memiliki toleransi yang besar terhadap umat Hindu. Umat Hindu di Bali pun tidak merasa terbebani dengan adanya umat Islam dan agama lainnya. Lantas kenapa umat Islam di Myanmar tersingkirkan dan tertindas, sehingga tidak mendapatkan hak hidup yang layak?.
Penonjolan Icon Borobudur ini erat kaitannya dengan upaya pendiskreditan sejarah Islam di Indonesia. Upaya ini dilakukan oleh kolonial Belanda yang sengaja mengangkat Hindu sebagai sebuah peradaban yang ‘unggul’ di Nusantara sehingga dalam penulisan sejarah dan   yang diajarkan kepada generasi muda Indonesia di sekolah – sekolah bahwa Hindu –dan Budha – menjadi  pengukir sejarah yang ‘diunggulkan’.
Upaya ini tidak terlepas dari hasil penulisan sejarah  The History of Java, buku yang ditulis oleh Thomas Stanford Raffles. Didalam buku ini sangat terlihat usaha Raffles  mendiskreditkan Islam. Raffles adalah orientalis pertama yang mengembangkan teori bahwa Hindu adalah akar dari Jawa. Oleh karena itu, Raffles mempelopori ekskavasi candi-candi yang sudah terkubur di tanah Jawa, seperti Borobudur, Prambanan dan Panataran,” ungkap Tiar yang juga merupakan Ketua Pemuda PERSIS.
 “Lalu ada buku The History of Sumatra,” lanjut Tiar. “Buku ini ditulis oleh William Marsden pada tahun 1783. Pandangan Marsden dalam buku tersebut tidak jauh berbeda dengan pandangan Raffles dalam buku karyanya, yaitu pandangan yang menyudutkan agama Islam. Namun, dikarenakan wilayah yang berbeda dari Jawa, maka teori yang dilakukan Marsden adalah membenturkan antara adat dan agama Islam. Marsden mengatakan bahwa yang termasuk adat adalah tidak sesuai dengan agama, dan sebaliknya. Pada akhirnya, dalam buku Marsden tersebut, disimpulkan bahwa adat adalah karakter dasar masyarakat Sumatra, dan aslinya, masyarakat Sumatra bukan berkarakter Islam,” tukas Ustadz Tiar.
“Lalu ada pula orientalis yang kita semua tahu  yaitu Cristiaan Snouck Hurgronje. Ia adalah seorang orientalis Belanda yang menyamar menjadi Islam dan menulis buku berjudul Het Mekansche Festival atau Festival Mekkah, yang kita kenal sebagai Ibadah Haji, tapi dia justru menyebutnya ‘Festival Mekkah’,” ujar Tiar.
Menutup Perkuliahan sore tersebut,  Tiar Anwar Bachtiar membicarakan tentang pendidikan sejarah di Indonesia. “Dalam buku sejarah di sekolah - sekolah saat ini, masih muncul kesan bahwa Hindu adalah peradaban ‘unggul’ di Indonesia, dan sebagai contohnya adalah kerajaan Majapahit yang diklaim sebagai ‘pemersatu Nusantara’, padahal Kerajaan Sunda saja  tidak berhasil mereka taklukkan, sehingga terjadilah perang Bubat. Dan masih ada kejanggalan – kejanggalan lainnya dalam pendidikan sejarah yang diajarkan di Indonesia. Dalam buku-buku sejarah  juga dikesankan bahwa Islam adalah pemecah upaya penyatuan Nusantara. ketika banyaknya bupati yang berada dibawah wilayah Majapahit memeluk Islam dan kemudian memisahkan diri dari Majapahit, seperti Kerajaan Islam Demak ,” ungkap Tiar.
Ustadz Tiar juga menyoroti, “ pendidikan sejarah bukan hanya sebatas menghafal waktu dan tempat kejadian saja namun setelah belajar sejarah kita bisa bergerak dan memajukan peradaban Islam yang sudah ada menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar