KaPe
Bahas Sejarah Pergerakan Islam Indonesia
Kuliah
Peradaban (KaPe) pertemuan kedua membahas seputar Sejarah Pergerakan Islam
Indonesia. Perkuliahan yang digelar pada 31 Mei 2015 tersebut berlangsung di
aula mesjid Nurul Falaah, kel. Turangga,Buah batu, Bandung. Mengambil tema “Sejarah”,
karena belajar dari sejarah kita bisa mengevaluasi supaya kejadian negatif
tidak terulang lagi. Narasumber yang dihadirkan adalah Tiar Anwar Bachtiar,M.Hum.
Salah seorang peneliti di INSISTS dan salah seorang staf pengajar di Pesantren Persatuan Islam
(Persis) 19, Bentar Garut.
Memulai perkuliahannya, Ustadz
Tiar menyajikan sebuah presentasi yang diberi judul “Hinduisasi Dalam
Sejarah Indonesia” beliau menerangkan tentang Mengapa harus
candi Borobudur yang menjadi icon Indonesia? padahal dibandingkan Borobudur
mesjid yang usianya lebih tua dari candi ada dan mesjid pun jauh lebih berperan
bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia dari pada candi Borobudur. Ironinya
lagi Borobudur lebih banyak dimakmurkan oleh orang Islam daripada orang Hindu
sendiri,” ujar Tiar. Selama ini kerukunan umat Islam yang mayoritas
di Indonesia memiliki toleransi yang
besar terhadap umat Hindu. Umat Hindu di Bali pun tidak merasa terbebani dengan
adanya umat Islam dan agama lainnya. Lantas kenapa umat Islam di Myanmar
tersingkirkan dan tertindas, sehingga tidak mendapatkan hak hidup yang layak?.
Penonjolan
Icon Borobudur ini erat kaitannya dengan upaya pendiskreditan sejarah Islam di
Indonesia. Upaya ini dilakukan oleh kolonial Belanda yang sengaja mengangkat
Hindu sebagai sebuah peradaban yang ‘unggul’ di Nusantara sehingga dalam
penulisan sejarah dan yang diajarkan kepada generasi muda Indonesia
di sekolah – sekolah bahwa Hindu –dan Budha – menjadi pengukir sejarah yang ‘diunggulkan’.
Upaya
ini tidak terlepas dari hasil penulisan sejarah The History of Java, buku yang ditulis oleh Thomas
Stanford Raffles. Didalam buku ini sangat terlihat usaha Raffles mendiskreditkan Islam. Raffles adalah
orientalis pertama yang mengembangkan teori bahwa Hindu adalah akar dari Jawa.
Oleh karena itu, Raffles mempelopori ekskavasi candi-candi yang sudah terkubur
di tanah Jawa, seperti Borobudur, Prambanan dan Panataran,” ungkap Tiar yang
juga merupakan Ketua Pemuda PERSIS.
“Lalu ada buku The History of Sumatra,”
lanjut Tiar. “Buku ini ditulis oleh William Marsden pada tahun 1783. Pandangan
Marsden dalam buku tersebut tidak jauh berbeda dengan pandangan Raffles dalam
buku karyanya, yaitu pandangan yang menyudutkan agama Islam. Namun, dikarenakan
wilayah yang berbeda dari Jawa, maka teori yang dilakukan Marsden adalah
membenturkan antara adat dan agama Islam. Marsden mengatakan bahwa yang
termasuk adat adalah tidak sesuai dengan agama, dan sebaliknya. Pada akhirnya,
dalam buku Marsden tersebut, disimpulkan bahwa adat adalah karakter dasar
masyarakat Sumatra, dan aslinya, masyarakat Sumatra bukan berkarakter Islam,”
tukas Ustadz Tiar.
“Lalu
ada pula orientalis yang kita semua tahu yaitu Cristiaan Snouck Hurgronje. Ia adalah
seorang orientalis Belanda yang menyamar menjadi Islam dan menulis buku
berjudul Het Mekansche Festival atau Festival Mekkah, yang kita kenal
sebagai Ibadah Haji, tapi dia justru menyebutnya ‘Festival Mekkah’,” ujar Tiar.
Menutup
Perkuliahan sore tersebut, Tiar Anwar Bachtiar membicarakan tentang
pendidikan sejarah di Indonesia. “Dalam buku sejarah di sekolah - sekolah saat
ini, masih muncul kesan bahwa Hindu adalah peradaban ‘unggul’ di Indonesia, dan
sebagai contohnya adalah kerajaan Majapahit yang diklaim sebagai ‘pemersatu
Nusantara’, padahal Kerajaan Sunda saja
tidak berhasil mereka taklukkan, sehingga terjadilah perang Bubat. Dan masih
ada kejanggalan – kejanggalan lainnya dalam pendidikan sejarah yang diajarkan
di Indonesia. Dalam buku-buku sejarah juga dikesankan bahwa Islam adalah pemecah
upaya penyatuan Nusantara. ketika banyaknya bupati yang berada dibawah wilayah
Majapahit memeluk Islam dan kemudian memisahkan diri dari Majapahit, seperti
Kerajaan Islam Demak ,” ungkap Tiar.
Ustadz
Tiar juga menyoroti, “ pendidikan sejarah bukan hanya sebatas menghafal waktu
dan tempat kejadian saja namun setelah belajar sejarah kita bisa bergerak dan
memajukan peradaban Islam yang sudah ada menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar