Bandung, 21/6-Sabtu, Kuliah Peradaban
(KaPe) pekan kelima membedah seputar Islam dan Sains bersama ustadz Wendi
Zarman. Kuliah yang berlangsung di aula mesjid Nurul Falaah berjalan lancar,
meski sedikit terlambat dikarenakan pemateri datang tidak sesuai jadwal karena
ada suatu hal. Namun tidak mengurangi essensi dari materi yang akan
disampaikan. Peserta pun masih tampak khusyu menyimak materi yang disampaikan
meski dalam keadaan puasa Ramadhan. Peserta yang hadir pun ada peningkatan
jumlah dari sebelumnya.
Ustadz sekaligus dosen itu mulai
menuturkan materinya dengan pembawaan yang kalem. “Ilmu itu mengetahui
hakikatnya. Hakikat adalah esensi. Esensi itu tidak berubah, sedangkan accident
itu sifat yang mengubah. Ilmu itu tidak netral, tapi refleksi
dari pandangan hidup.
Wahyu tidak masuk dalam sains hal ini karena dipengaruhi sekuler. Tidak ada
Tuhan, tidak ada aturan, tidak ada yang mengatur. Alam ini tidak ada tujuan.
Manusia hanya materi saja. Peraturan muncul karena ada tujuan. Alam ini
mempunyai suatu keteraturan. Hukum sains itu teratur. Kalau teratur pasti ada
yang mengatur. Dalam sains keteraturan alam diakui, tetapi yang mengaturnya
tidak diakui.”
Mengislamkan sains bermakna
meletakkan hal-hal berikut kedalam kerangka pandangan alam Islam (Islamic
worldview). Konsep Ilmu, alam, Islamisasi (pengislaman) adalah pembebasan
manusia yang diawali dengan pembebasan dari tradisi2 yang berunsurkan magis,
mitologi, animisme, kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islam, dan
sesudah itu pembebasan dari kungkungan sekular terhadap akal dan bahasanya
(Prof. al-Attas, I&S h. 55). Diakhir ada session tanya jawab, dan suasana
kelas pun hangat ada interaksi antara pemateri dan peserta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar