Jumat, 14 Agustus 2015

Islam dan Sains



Bandung, 21/6-Sabtu, Kuliah Peradaban (KaPe) pekan kelima membedah seputar Islam dan Sains bersama ustadz Wendi Zarman. Kuliah yang berlangsung di aula mesjid Nurul Falaah berjalan lancar, meski sedikit terlambat dikarenakan pemateri datang tidak sesuai jadwal karena ada suatu hal. Namun tidak mengurangi essensi dari materi yang akan disampaikan. Peserta pun masih tampak khusyu menyimak materi yang disampaikan meski dalam keadaan puasa Ramadhan. Peserta yang hadir pun ada peningkatan jumlah dari sebelumnya.
Ustadz sekaligus dosen itu mulai menuturkan materinya dengan pembawaan yang kalem. “Ilmu itu mengetahui hakikatnya. Hakikat adalah esensi. Esensi itu tidak berubah, sedangkan accident itu sifat yang mengubah. Ilmu itu tidak netral, tapi refleksi dari pandangan hidup. Wahyu tidak masuk dalam sains hal ini karena dipengaruhi sekuler. Tidak ada Tuhan, tidak ada aturan, tidak ada yang mengatur. Alam ini tidak ada tujuan. Manusia hanya materi saja. Peraturan muncul karena ada tujuan. Alam ini mempunyai suatu keteraturan. Hukum sains itu teratur. Kalau teratur pasti ada yang mengatur. Dalam sains keteraturan alam diakui, tetapi yang mengaturnya tidak diakui.”
Mengislamkan sains bermakna meletakkan hal-hal berikut kedalam kerangka pandangan alam Islam (Islamic worldview). Konsep Ilmu, alam, Islamisasi (pengislaman) adalah pembebasan manusia yang diawali dengan pembebasan dari tradisi2 yang berunsurkan magis, mitologi, animisme, kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islam, dan sesudah itu pembebasan dari kungkungan sekular terhadap akal dan bahasanya (Prof. al-Attas, I&S h. 55). Diakhir ada session tanya jawab, dan suasana kelas pun hangat ada interaksi antara pemateri dan peserta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar