Jumat, 14 Agustus 2015

Pengaruh Islam dan Sains

Kita berfikir itu merupakan aktivitas materi. Otak itu materi dapat dilihat. Go spot titik dimana manusia merasa religious. Adanya problem-problem itu menimbulkan gagasan Sains Islam atau Islamisasi Sains. Namun munculnya gagasan ini juga menuai kritik dari umat Islam maupun di luarnya. “Hanya ada satu sains universal, problemanya dan paradigmanya menginternasional, tidak ada sains Islami, tidak pula sains Hindu, sains Yahudi, sains Konfusian, atau sains Kristiani” (M. Abdus Salam, Fisikawan Pakistan) Yang ingin saya temukan, misalnya Matematika Islam, astronomi Islam, Ilmu ukur Islam. Sains barat dll, apakah akan bisa ada dalam dunia ini? Misalnya, menurut ilmu ukur Islam, sudut siku-siku bukan 90 derajat, tapi 97 derajat, sudut lingkaran bukan 360, tapi 357 derajat. Dr. Zarman bisa usulkan, menurut kosmologi Islam, jagat raya kita baru berusia 6000 tahun, bukan 13,72 milyar tahun. …Nah, sains-sains Islam yang khas dan unik ini yang saya mau temukan dari pemikiran Dr. Zarman. Tapi dia tidak menyodorkannya...” (Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern, Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013, hlm. 84-85).
Ilmu itu mengetahui hakikatnya. Hakikat adalah esensi. Esensi itu tidak berubah, sedangkan accident itu sifat yang mengubah. Ilmu itu tidak netral, tapi refleksi dari pandangan hidup. Wahyu tidak masuk dalam sains hal ini karena dipengaruhi sekuler. Tidak ada Tuhan, tidak ada aturan, tidak ada yang mengatur. Alam ini tidak ada tujuan. Manusia hanya materi saja. Peraturan muncul karena ada tujuan. Alam ini mempunyai suatu keteraturan. Hukum sains itu teratur. Kalau teratur pasti ada yang mengatur. Dalam sains keteraturan alam diakui, tetapi yang mengaturnya tidak diakui.
Sebagai contoh ketika di sebuah tempat banjir, itu adalah indikasi sudah banyak dosa masyarat tsb, begitu juga dengan kecelakaan. Umar bin Khattab ketika di Medinah dalam buku Al-Jauziah, pernah mengalami gempa, kalau sampai terjadi gempa lagi, saya tidak mau berada disini lagi. Bukan sekedar karena lempengan secara geografi tetapi sains modern orientasi berlebihan terhadap pemikiran duniawi tujuannya ekonomi pragmatis. Produksi teknologi dibuat untuk kesenangan. Berbeda dengan sains Islam, merefleksikan dengan tujuan hidup. Al- Khawarizmi seorang matematikawan penulis kitab Al-Jabar, menulis kitabnya dalam rangka membantu persoalan agama. Mengabdi kepada Allah semata.
Dalam sains tidak ada urusan agama. Kebanyakan mengarang buku bukan atas dasar ridho Allah semata. Sehingga banyak problem makanan tidak sehat, itu semua cerminan bahwa orang itu mengembangkan sains tidak untuk kepentingan agama. Islamisasi sangat filosofis tidak bisa mengharap bahwa bentuk rilnya akan lebih lama, yang sudah ada sekarang kedokteran Islam itu pun harus dikembangkan lebih canggih lagi.
Sumber atau saluran ilmu, diantaranya: 1. Indera untuk melihat hal-hal, Panca indera, 2. akal rasional / kalbu. Sebagai contoh ketika anak kecil diberi permen coklat atau uang, pasti kebanyakan akan memilih permen coklat. Karena dia tahu maknanya kalau permen coklat untuk dimakan. Sedangkan uang tidak tahu gunanya. Beda hal dengan orang dewasa pasti akan memilih uang. Karena uang bisa untuk membeli apa saja. Selain dapat permen coklat banyak juga selebihnya bisa untuk membeli pulsa.  Melihat hubungan dengan segala sesuatu (ilmu) orang yang banyak Ilmu bisa menghubungkan sesuatu dengan banyak hal. Misalnya, seorang ustadz ahli tafsir bisa menjelaskan surat pendek surat Al-Ashr bisa sampai 3 jam, hal ini berarti ustadz tsb. Menafsirkan surat tsb dengan berbagai hal. Konsep ilmu inilah yang menurut Al-Attas yakni ilmu itu Menghubungkan dengan segala sesuatu.
Sains menghilangkan hubungan dengan wahyu ini problem, hubungan dengan Tuhan/ agama itu dicabut. Sains harus dibimbing oleh wahyu karena akan mengarah pada hal-hal yang tidak jelas. Misalnya pembahasan masalah cloning. Idenya sampai mana? Mengkloning manusia. Sains tidak mempunyai visi maka akan terus mencari. Tidak mempunyai tujuan. Sains tidak dibimbing oleh agama akan liar.
Mengislamkan sains bermakna meletakkan hal-hal berikut kedalam kerangka pandangan alam Islam (Islamic worldview). Konsep Ilmu, alam, Islamisasi (pengislaman) adalah pembebasan manusia yang diawali dengan pembebasan dari tradisi2 yang berunsurkan magis, mitologi, animisme, kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islam, dan sesudah itu pembebasan dari kungkungan sekular terhadap akal dan bahasanya (Prof. al-Attas, I&S h. 55). Mengislamkan Sains bermakna meletakkan hal-hal berikut ke dalam kerangka Pandangan Alam Islam (Islamic Worldview) :
ž  Islamisasi makna alam
ž  Islamisasi maratib (hirarki) ilmu
ž  Islamisasi metodologi penelitian
ž  Penerapan adab menuntut ilmu
ž  Penelitian sejarah sains Islam
Pertanyaan, Aqil; manusia memiliki kemampuan spiritual, kebanyakan sains itu menghilangkan Tuhan, tidak ada campur tangan antara wahyu dan sains, Bagaimana mensiasatinya supaya kita tidak terjebak? Jawabannya adalah perbaiki worldview / cara pandang kita melihat sesuatu, beda cara pandang beda dalam mengambil kesimpulan. Kita harus mengetahui maknanya dan bisa menghubungkan dengan lainnya, yang terpenting dalam islamisasi ilmu, bagaimana ilmu ini menjadi mengenal Allah dan mengabdi kepadaNya. Sebagai contoh seorang dokter yang mengabdi kepada Allah maka hasil dari usahanya akan disedekahkan, mengobati pasien dengan sebaik-baiknya, member kemudahan berobat, dll. Sedangkan seorang farmasi dalam membuat obat tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan dalam Islam. Enginer membuat mesin pertanian, tidak menggunakan pestisida yang bisa membahayakan lingkungan dan merusak, membangun bangunan ramah lingkungan.
Pengislaman Sains dalam Konteks Pendidikan;
ž   Menjadikan ma’rifatuLlah sebagai tujuan tertinggi mempelajari sains
ž  Menyeimbangkan pengajaran Ilmu Fardhu ‘Ain dengan Fardhu Kifayah
ž  Menerapkan Adab-Adab Pendidikan Islam
Penafibaratan (Dewesternisasi) konsep-konsep sains Barat yang bermasalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar