Kita berfikir itu merupakan aktivitas
materi. Otak itu materi dapat dilihat. Go spot titik dimana manusia merasa
religious. Adanya problem-problem itu
menimbulkan gagasan Sains Islam atau Islamisasi Sains. Namun munculnya gagasan
ini juga menuai kritik dari umat Islam maupun di luarnya. “Hanya ada satu sains universal, problemanya
dan paradigmanya menginternasional, tidak ada sains Islami, tidak pula sains
Hindu, sains Yahudi, sains Konfusian, atau sains Kristiani” (M. Abdus Salam,
Fisikawan Pakistan) Yang ingin saya temukan, misalnya Matematika Islam, astronomi Islam,
Ilmu ukur Islam. Sains barat dll, apakah akan bisa ada dalam dunia ini?
Misalnya, menurut ilmu ukur Islam, sudut siku-siku bukan 90 derajat, tapi 97
derajat, sudut lingkaran bukan 360, tapi 357 derajat. Dr. Zarman bisa usulkan,
menurut kosmologi Islam, jagat raya kita baru berusia 6000 tahun, bukan 13,72
milyar tahun. …Nah, sains-sains Islam yang khas dan unik ini yang saya mau
temukan dari pemikiran Dr. Zarman. Tapi dia tidak menyodorkannya...” (Ioanes
Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern, Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013,
hlm. 84-85).
Ilmu itu mengetahui hakikatnya.
Hakikat adalah esensi. Esensi itu tidak berubah, sedangkan accident itu sifat
yang mengubah. Ilmu itu tidak netral, tapi refleksi dari pandangan hidup. Wahyu tidak masuk dalam sains hal
ini karena dipengaruhi sekuler. Tidak ada Tuhan, tidak ada aturan, tidak ada
yang mengatur. Alam ini tidak ada tujuan. Manusia hanya materi saja. Peraturan
muncul karena ada tujuan. Alam ini mempunyai suatu keteraturan. Hukum sains itu
teratur. Kalau teratur pasti ada yang mengatur. Dalam sains keteraturan alam
diakui, tetapi yang mengaturnya tidak diakui.
Sebagai contoh ketika di sebuah
tempat banjir, itu adalah indikasi sudah banyak dosa masyarat tsb, begitu juga
dengan kecelakaan. Umar bin Khattab ketika di Medinah dalam buku Al-Jauziah,
pernah mengalami gempa, kalau sampai terjadi gempa lagi, saya tidak mau berada
disini lagi. Bukan sekedar karena lempengan secara geografi tetapi sains modern
orientasi berlebihan terhadap pemikiran duniawi tujuannya ekonomi pragmatis.
Produksi teknologi dibuat untuk kesenangan. Berbeda dengan sains Islam,
merefleksikan dengan tujuan hidup. Al- Khawarizmi seorang matematikawan penulis
kitab Al-Jabar, menulis kitabnya dalam rangka membantu persoalan agama.
Mengabdi kepada Allah semata.
Dalam sains tidak ada urusan agama.
Kebanyakan mengarang buku bukan atas dasar ridho Allah semata. Sehingga banyak
problem makanan tidak sehat, itu semua cerminan bahwa orang itu mengembangkan
sains tidak untuk kepentingan agama. Islamisasi sangat filosofis tidak bisa
mengharap bahwa bentuk rilnya akan lebih lama, yang sudah ada sekarang
kedokteran Islam itu pun harus dikembangkan lebih canggih lagi.
Sumber atau saluran ilmu,
diantaranya: 1. Indera untuk melihat hal-hal, Panca indera, 2. akal rasional /
kalbu. Sebagai contoh ketika anak kecil diberi permen coklat atau uang, pasti
kebanyakan akan memilih permen coklat. Karena dia tahu maknanya kalau permen
coklat untuk dimakan. Sedangkan uang tidak tahu gunanya. Beda hal dengan orang
dewasa pasti akan memilih uang. Karena uang bisa untuk membeli apa saja. Selain
dapat permen coklat banyak juga selebihnya bisa untuk membeli pulsa. Melihat hubungan dengan segala sesuatu (ilmu)
orang yang banyak Ilmu bisa menghubungkan sesuatu dengan banyak hal. Misalnya,
seorang ustadz ahli tafsir bisa menjelaskan surat pendek surat Al-Ashr bisa
sampai 3 jam, hal ini berarti ustadz tsb. Menafsirkan surat tsb dengan berbagai
hal. Konsep ilmu inilah yang menurut Al-Attas yakni ilmu itu Menghubungkan
dengan segala sesuatu.
Sains menghilangkan hubungan dengan
wahyu ini problem, hubungan dengan Tuhan/ agama itu dicabut. Sains harus
dibimbing oleh wahyu karena akan mengarah pada hal-hal yang tidak jelas.
Misalnya pembahasan masalah cloning. Idenya sampai mana? Mengkloning manusia.
Sains tidak mempunyai visi maka akan terus mencari. Tidak mempunyai tujuan.
Sains tidak dibimbing oleh agama akan liar.
Mengislamkan sains bermakna
meletakkan hal-hal berikut kedalam kerangka pandangan alam Islam (Islamic
worldview). Konsep Ilmu, alam, Islamisasi (pengislaman) adalah pembebasan
manusia yang diawali dengan pembebasan dari tradisi2 yang berunsurkan magis,
mitologi, animisme, kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islam, dan
sesudah itu pembebasan dari kungkungan sekular terhadap akal dan bahasanya
(Prof. al-Attas, I&S h. 55). Mengislamkan Sains bermakna meletakkan hal-hal berikut ke dalam
kerangka Pandangan Alam Islam (Islamic Worldview) :
Islamisasi
makna alam
Islamisasi
maratib (hirarki) ilmu
Islamisasi
metodologi penelitian
Penerapan
adab menuntut ilmu
Penelitian
sejarah sains Islam
Pertanyaan, Aqil; manusia memiliki
kemampuan spiritual, kebanyakan sains itu menghilangkan Tuhan, tidak ada campur
tangan antara wahyu dan sains, Bagaimana mensiasatinya supaya kita tidak
terjebak? Jawabannya adalah perbaiki worldview / cara pandang kita melihat
sesuatu, beda cara pandang beda dalam mengambil kesimpulan. Kita harus
mengetahui maknanya dan bisa menghubungkan dengan lainnya, yang terpenting
dalam islamisasi ilmu, bagaimana ilmu ini menjadi mengenal Allah dan mengabdi
kepadaNya. Sebagai contoh seorang dokter yang mengabdi kepada Allah maka hasil
dari usahanya akan disedekahkan, mengobati pasien dengan sebaik-baiknya, member
kemudahan berobat, dll. Sedangkan seorang farmasi dalam membuat obat tidak
menggunakan bahan-bahan yang diharamkan dalam Islam. Enginer membuat mesin
pertanian, tidak menggunakan pestisida yang bisa membahayakan lingkungan dan merusak,
membangun bangunan ramah lingkungan.
Pengislaman
Sains dalam Konteks Pendidikan;
Menjadikan ma’rifatuLlah sebagai tujuan
tertinggi mempelajari sains
Menyeimbangkan
pengajaran Ilmu
Fardhu ‘Ain dengan Fardhu Kifayah
Menerapkan
Adab-Adab Pendidikan Islam
Penafibaratan (Dewesternisasi) konsep-konsep sains
Barat yang bermasalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar