Awal mula munculnya Ghazwul Fikri (Perang pemikiran) Iblis berkata: “Ya Rabb-ku, oleh sebab
Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya.” (QS.
Al-Hijr [15]: 39)
Saat ini di zaman yang sudah
merdeka dari penjajah bangsa asing. Tanpa disadari ternyata kita masih dijajah.
Kalau dulu perang fisik nyata dan terlihat, sekarang lebih kejam yakni perang
pemikiran, tidak nyata namun terasa akibatnya. Media massa dan elektronik salah
satu alat ampuh untuk Ghazwul fikri
ini “If you repeat a lie often
enough, people will believe it.” Dalam publikasi media massa tak sedikit
menghadirkan issue –issue tentang pernikahan beda agama, seolah-olah dilegalkan
oleh Negara. Padahal dalam agama Islam itu tidak boleh. Sehingga
kebohongan-kebohongan dalam berita sesuai kepentingan pemesan berita jika terus
berulang-ulang, maka orang pun akan percaya pada akhirnya. Karena kebanyakan
dari masyarakat kita menerima berita tanpa mencernanya terlebih dulu. Begitu
juga dengan media elektronik televisi yang menyuguhkan tayangan yang tak
sedikit jauh dari nilai moral umat Islam, adegan-adegan yang tak layak ditonton
oleh anak-anak ini yang lebih bahaya. Sehinga ada baiknya selaku orang tua
lebih selektif terhadap apa yang ditonton dan dibaca oleh anak-anaknya.
Ghazwul fikri juga menyerang
ranah pendidikan, betapa tidak kurikulum saat ini jika tidak jelas kiblatnya
akan menyesatkan. Buku-buku bacaan
penunjang pun harus diperhatikan supaya tidak ada unsur yang menyesatkan. Dunia
kampus perguruan tinggi Islam di Indonesia pun tidak sedikit banyak penggiat
Islam Liberal. Dalam dunia pendidikan banyak teori-teori dari kaum liberalis,
sosialis, maupun pluralis.
Dalam ranah sosial budaya, salah
satu pertujunkan teater di luar sana menampilkan penari bugil bagi seorang
Justin Gionet salah seorang penari itu mengatakan bahwa bugil merupakan seni
dalam tarian tidak ada bedanya antara
berkostum dan tanpa kostum. “...sebagaimana
energi kesalehan harus disalurkan, energi kemaksiatan juga harus diberi
saluran, agar tidak meledak dan tercecer di sembarang tempat”, sebuah
kutipan penganut Justin Gionet.
Pemahaman Islam Liberal yang
masuk ke ranah akademisi ini merupakan sarana ghazwul fikri juga. Penganut
Islam Liberal beranggapan bahwa kebebasan yang tidak merugikan orang lain itu
benar. Buah dari islam liberal misalnya ciuman dengan yang bukan muhrim adalah
sodakoh karena berdasar suka dan tidak suka, dan banyak lainnya.
Ghazwul fikri kontemporer masuk ke ranah lainnya beberapa diantaranya;
Pluralisme agama, Kesetaraan gender, Terorisme, Pornografi / pornoaksi, Nikah
beda agama, Kebebasan
berpendapat, Sekularisasi,
dll. Ghazwul fikri adalah fenomena umum yang telah terjadi
sejak lama. Banyak pihak yang berkepentingan melakukan ghazwul fikri terhadap
umat Muslim. Ghazwul fikri hanya
bisa dimenangkan dengan ilmu. Maka generasi Islam harus terus mencari ilmu tauhid. Supaya
terselamatkan dari fitnah Ghazwul Fikri. Wallahu a’lam bishowab.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar