Jumat, 14 Agustus 2015

Mengenal Ghazwul Fiqri

Bismillah...


Awal mula munculnya Ghazwul Fikri (Perang pemikiran) Iblis berkata: “Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 39)
Saat ini di zaman yang sudah merdeka dari penjajah bangsa asing. Tanpa disadari ternyata kita masih dijajah. Kalau dulu perang fisik nyata dan terlihat, sekarang lebih kejam yakni perang pemikiran, tidak nyata namun terasa akibatnya. Media massa dan elektronik salah satu alat ampuh untuk Ghazwul fikri ini “If you repeat a lie often enough, people will believe it.” Dalam publikasi media massa tak sedikit menghadirkan issue –issue tentang pernikahan beda agama, seolah-olah dilegalkan oleh Negara. Padahal dalam agama Islam itu tidak boleh. Sehingga kebohongan-kebohongan dalam berita sesuai kepentingan pemesan berita jika terus berulang-ulang, maka orang pun akan percaya pada akhirnya. Karena kebanyakan dari masyarakat kita menerima berita tanpa mencernanya terlebih dulu. Begitu juga dengan media elektronik televisi yang menyuguhkan tayangan yang tak sedikit jauh dari nilai moral umat Islam, adegan-adegan yang tak layak ditonton oleh anak-anak ini yang lebih bahaya. Sehinga ada baiknya selaku orang tua lebih selektif terhadap apa yang ditonton dan dibaca oleh anak-anaknya.
Ghazwul fikri juga menyerang ranah pendidikan, betapa tidak kurikulum saat ini jika tidak jelas kiblatnya akan menyesatkan. Buku-buku  bacaan penunjang pun harus diperhatikan supaya tidak ada unsur yang menyesatkan. Dunia kampus perguruan tinggi Islam di Indonesia pun tidak sedikit banyak penggiat Islam Liberal. Dalam dunia pendidikan banyak teori-teori dari kaum liberalis, sosialis, maupun pluralis.
Dalam ranah sosial budaya, salah satu pertujunkan teater di luar sana menampilkan penari bugil bagi seorang Justin Gionet salah seorang penari itu mengatakan bahwa bugil merupakan seni dalam tarian  tidak ada bedanya antara berkostum dan tanpa kostum. “...sebagaimana energi kesalehan harus disalurkan, energi kemaksiatan juga harus diberi saluran, agar tidak meledak dan tercecer di sembarang tempat”, sebuah kutipan penganut Justin Gionet.
Pemahaman Islam Liberal yang masuk ke ranah akademisi ini merupakan sarana ghazwul fikri juga. Penganut Islam Liberal beranggapan bahwa kebebasan yang tidak merugikan orang lain itu benar. Buah dari islam liberal misalnya ciuman dengan yang bukan muhrim adalah sodakoh karena berdasar suka dan tidak suka, dan banyak lainnya.
Ghazwul fikri kontemporer masuk ke ranah lainnya beberapa diantaranya; Pluralisme agama, Kesetaraan gender, Terorisme, Pornografi / pornoaksi, Nikah beda agama, Kebebasan berpendapat, Sekularisasi, dll. Ghazwul fikri adalah fenomena umum yang telah terjadi sejak lama. Banyak pihak yang berkepentingan melakukan ghazwul fikri terhadap umat Muslim. Ghazwul fikri hanya bisa dimenangkan dengan ilmu. Maka generasi Islam harus terus mencari ilmu tauhid. Supaya terselamatkan dari fitnah Ghazwul Fikri. Wallahu a’lam bishowab.
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar