Jumat, 14 Agustus 2015

Pentingnya Memahami Dekonstruksi Syariat



Dekonstruksi merupakan serapan bahasa Inggris yakni Deconstruction. Secara etimologi de + construktio (latin). de = bawah, pengurangan, atau terlepas dari. Construktio = bentuk, susunan, hal menyusun, hal mengatur. Dekonstruksi = pengurangan atau penurunan intensitas bentuk yang sudah tersusun, sebagai bentuk yang sudah baku. Kristeva (1980:36-37).
Prinsip dekonstruksi yaitu melacak unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif, dan makna ironi) dan Membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah dikonvensionalkan.
Dekonstruksi menuntut kita lebih teliti dan kritis terhadap teks sastra.
Tujuan metode dekonstruksi:
Ingin menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpangan di balik teks-teks.
 Isu-isu dekonstruksi berdasar pentakwilan syariat dan metodologi barat diantaranya,
1.       Hubungan Islam dan Negara, misalnya keduanya terpisahkan banyak yang beranggapan Islam tidak boleh mempengaruhi kehidupan. Padahal dalam Islam sendiri, Islam tidak dapat terpisahkan merupakan pedoman hidup.
2.       Hukum berjilbab, sebagai contoh bagi seorang wanita di Indonesia khususnya yang notabene mayoritas muslim, banyak beranggapan bahwa  asal jilbab dari Arab, berfungsi sebagai pelindung karena cuaca panas dan gurun sehingga banyak yang mengabaikan berjilbab. Padahal perintah jilbab tertuang dalam kitab AlQUr’an.
3.       Hukum waris, dalam aplikasinya jika tidak mengikuti aturan Islam, banyak terjadi pembagian waris yang tidak merata.
4.       Hukum perkawinan, berlanjut ke masalah keluarga misalnya masalah kewajiban memberi nafkah yang merupakan tanggung jawab suami, meski saat ini banyak wanita karir dalam hal pendapatannya lebih dari suami namun tetap tanggung jawab ada di suami. sistem sosial yang rusak kaum laki-laki banyak yang tidak paham tanggung jawabnya karena sudah didominasi wacana barat.
5.       Hukum Jinayat, tidak akan berlaku ketika masalah prostitusi tidak bisa dideteksi.
Tidak ada yang bisa mengendalikan pola pikir dan hawa nafsu seseorang kecuali dengan keimanan. indikator keberhasilan penegakkan syariah, berkurangnya tindak kejahatan. #kuliahperadaban

Tidak ada komentar:

Posting Komentar